isinya tulisan-tulisan AULIA KHAIR a.k.a AUL yang gak pernah diduga-disangka-ditebak-dan-diterka. bukan karna misterius ataupun serius, tapi karna gua emang gak tau mau nulis apa, jadi tulis aja yang pengen gua tulis, dan baca aja yang mau lo baca, tapi baca aja sih semuanya! males banget... *maksa*

Ancaman Palsu (part 3 - last part)

|
lebih baik sebelum baca yang ini, lu baca dulu yang part 1 sama part 2-nya ya! (^^)


ringkasan cerita sebelumnya:
Bocah hitam kecil akhirnya menemukan ide untuk mengisi waktunya di sore itu. Ia mengambil amplop dan tissue yang diberi aroma parfum, lalu dimasukannya surat ancaman palsu yang ditujukan kepada kakaknya. Satu jam lebih dia menunggu, tetapi kakaknya belum datang juga. Akhirnya ia tertidur di saat matahari akan terbenam... Ketika tidur, kakaknya datang. Sayangnya amplop tersebut ditemukan lebih dahulu oleh Emaknya... dan dari sini masalah dimulai. Sang kakak pun ditodong berbagai pertanyaan dari Babe..."

======= ======= =======

Matahari sudah semakin sekarat. Sinar merahnya seperti menggambarkan kondisi di rumah saat itu. Bocah kecil hitam mulai terbangun. Ia melihat jam dinding. Ternyata ia baru tidur setengah jam. Namun pikirannya masih setengah sadar. Yang ia ketahui hanyalah kenyataan bahwa ia masih memakai celana pendek merah seragam sekolah dasarnya. 

Sebenarnya bocah itu malas untuk mandi. Tidak seperti kakaknya, kecepatan mandi bocah ini hanya sepertiga dari waktu mandi kakaknya itu. Mandi koboi! Koboi itu keren! Berarti mandi koboi itu keren, pikirnya. Analogi yang sama sekali tidak nyambung. Namun bocah itu tidak peduli.

Ia beranjak dari kamarnya. Terdengar suara adzan magrib dari Masjid seberang danau belakang rumahnya.Ia ingin melihat ke jendela, ke arah Masjid tersebut,  ingin mengetahui sudah seberapa gelap saat itu. Ternyata matahari belum sepenuhnya tenggelam. Seperti menggambarkan musim kemarau yang akan datang di akhir bulan April ini, matahari yang terlambat tenggelam.

Lalu bocah itu melihatnya dan memperhatikan. 
Ia bertanya dalam hati, mengapa kakak dan Babenya berada di kamar ujung, duduk saling berhadapan? 

Kemudian ia bertanya kepada Emaknya...
"Ma, Da Ulil sama Papa lagi ngapain disana?" tanyanya dengan polos.
"Udah, kamu ga usah tau... mandi aja sana dulu! udah magrib ini!" jawab emaknya dengan tegas.
Bocah Hitam kecil itu pun menuruti emaknya dan segera mengambil pakaian untuk mandi. Walaupun sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di kamar ujung tersebut, namun bocah itu tidak peduli, cuek seperti biasa. 

Mandi selesai.
Dengan cepat.

"Ma... tolong ambilin andokk dong!!!"
Seperti biasa bocah itu selalu membawa pakaian ketika mau mandi, tapi selalu lupa membawa handuk. Akhirnya si bibi datang dari belakang (dapur) membawa handuk untuk bocah hitam itu.

Selesai mandi bocah tersebut beranjak ke ruang tengah. Ia ingin menonton sinetron langganannya yang dimulai setelah maghrib.Ruang tengah berada disamping ruang ujung, sehingga terlihat kembali kakak dan Babenya yang masih duduk berhadapan, membicarakan sesuatu, namun tidak jelas sedang membicarakan apa. Yang pasti kakaknya sedang dimarahi oleh Babenya saat itu, duganya. Ia tidak peduli, yang bocah itu inginkan saat itu adalah menonton TV. Tapi ketika dia baru duduk, tiba-tiba emaknya datang. Emaknya melarang menonton TV di ruang tengah untuk waktu itu saja. Kelihatannya pembicaraan di ruang sebelah memang penting sehingga menonton TV saja tidak boleh, pikir bocah itu.

Akhirnya si bocah hitam pergi ke kamar emaknya untuk menonton televisi, berusaha untuk tidak ikut campur atas apa yang sebenarnya terjadi di ruang ujung itu. Walaupun sebenarnya penasaran. Bocah itu pun menonton televisi dengan santai sambil tiduran di kasur emak-babenya. Rencana yang dibuatnya dua jam sebelumnya dilupakan begitu saja.

Tidak sampai setengah jam menonton TV, Tiba-tiba di teringat sesuatu. Sesuatu yang seharusnya ia ingat. Sesuatu yang seharusnya tidak penting, tapi menjadi penting karena sudah menjadi niat. ya, Amplop itu!!

 Akhirnya dia mengingatnya.

Aliran darahnya tiba-tiba mengalir cepat. Bukan karena sudah menyadari apa yang terjadi, tapi karena bersemangat ingin mengerjai kakaknya dan melihat reaksinya. Si bocah keluar kamar dan mencari amplop tadi. Dia melihat ke ruang tengah. Babenya sudah tidak di ruang ujung lagi. Sekarang si Babe terlihat sedang menelepon. Dan kelihatannya tidak hanya menelepon satu orang, tapi banyak orang. Sedangkan bocah itu masih mencari amplop tersebut sembari melihat wajah tidak santai dari kedua orang tuanya.

Amplop itu tidak ada.

Seingatnya, dia telah menaruh amplop tersebut di atas kulkas. Tapi sekarang sudah hilang. Mungkin sudah dibuang sama bibi tadi sore, dikira sampah,  pikirnya. Yasudahlah apa pula yang bisa diakibatkan oleh amplop iseng seperti itu?

Akhirnya Ia tidak melanjutkan pencarian terhadap amplop tersebut. Ia ingin makan, karena belum makan dari tadi sore. Sedangkan Babe masih mondar mandir membawa kunci mobil seperti ingin pergi ke luar rumah. Bocah itu merasa ingin bertanya apa yang sedang terjadi, tapi pasti dilarang. Ia pun makan dengan santai.

Sembari memasukan sendok yang berisi nasi dan potongan daging ayam, dia bertanya kepada si bibi.
"Bi, liat amplop putih yang tadi ditaro di atas kulkas ga?!"

Bukannya bibi yang menjawab, tiba-tiba mata seluruh penghuni rumah seperti mengarah ke arah si bocah.

"Loh!? Aulia tau darimana amplop itu?" tanya emak dengan memasang mata melotot penasaran
"Kamu tau amplop putih itu?" si kakak kali ini ikut bertanya
"Kamu tau siapa yang ngirim, liat mukanya nggak!?" sekarang si Babe masang muka tegang.

Masakan sore itu entah mengapa terasa begitu nikmat. Rasanya membuat mulut tidak ingin berhenti mengunyah makanan. Bocah itu pun menjawab dengan makan yang masih dikunyahnya.

"Ya taulah orang tadi sore Iya* ngebuat surat itu buat ngerjain da ulil... ceritanya dari Tenny gitu, biar Da Ulil percaya... hehehe..."

Semua terlihat menghela nafas. Namun masih tersirat muka kesal di wajah si Babe dan Emak. Ternyata  mereka berdua telah menyangka si Kakak sedang di ancam oleh pengedar narkoba. Disangka narkoba karena terdapat tissue yang berbau aneh yang diselipkan pada amplop tersebut. Kebetulan sedang maraknya isu pengedaran narkoba di kompleks perumahan. Jadilah si Kakak yang akhirnya diinterogarsi oleh si Babe tentang tissue itu. Walaupun sudah menyangkal, tapi Babe masih tidak percaya, dan lebih yakin atas dugaannya terhadap tissue berbau tersebut. 

Setelah itu si Babe langsung menelepon tetangga hingga saudara-saudara yang ada di Jakarta, sekedar mengingatkannya untuk lebih berhati-hati terhadap pengedaran narkoba. Bahkan si Babe juga bilang ke mereka semua bahwa si Kakak sudah menjadi korban! Fantastis. Bila si Bocah hitam itu telat memberitahukan dalam 5 menit, maka si Babe sudah ada dikantor polisi untuk melaporkan dugaan atas amplop bertisue tersebut.

Akhirnya si Kakak menjadi tenang karena semua masalah telah clear.
Selanjutnya giliran si Bocah hitam yang diinterogasi ruang tamu. 

* TAMAT *


Keterangan
"Iya" merupakan panggilan diri sendiri bocah hitam ke orang tuanya.


0 komen: